Mengapa Part Number Penting dalam Operasi Workshop?
Workshop dapat menangani beberapa mesin diesel dengan tipe dan konfigurasi berbeda. Walaupun nama komponennya sama, ukuran, spesifikasi, dan aplikasinya belum tentu identik. Filter oli pada satu mesin, misalnya, tidak otomatis dapat digunakan pada mesin lain hanya karena bentuk fisiknya terlihat serupa.Part number berfungsi sebagai identitas teknis yang membantu membedakan komponen. Penggunaan part number menjadi semakin penting ketika jumlah unit yang dirawat bertambah dan stok spare part terdiri dari ratusan atau bahkan ribuan item.Pengelolaan yang terstruktur dapat membantu workshop dalam beberapa hal:- mengurangi kesalahan identifikasi komponen;
- mempercepat proses pencarian spare part;
- menghindari pembelian barang yang sebenarnya sudah tersedia;
- mendukung perencanaan preventive maintenance;
- mempermudah pengendalian minimum stock;
- mencatat pemakaian komponen berdasarkan unit;
- membantu analisis biaya maintenance.
Part Number Bukan Sekadar Nama Komponen
Dalam komunikasi sehari-hari, teknisi sering menggunakan nama sederhana seperti filter solar, filter oli, belt, gasket, seal, water pump, atau sensor temperatur. Penamaan tersebut mempermudah percakapan, tetapi belum tentu cukup untuk proses pengadaan.Satu jenis mesin dapat menggunakan beberapa variasi komponen tergantung nomor seri, konfigurasi, atau periode produksinya. Karena itu, permintaan seperti “filter bahan bakar untuk mesin enam silinder” masih terlalu umum untuk memastikan komponen yang tepat.Data teknis sebaiknya dilengkapi dengan part number spare part mesin diesel serta identitas unit yang menggunakannya. Jika terdapat keraguan, nomor seri mesin dan dokumentasi teknis perlu diperiksa sebelum pemesanan dilakukan.Mulai dari Master Data Mesin Diesel
Sebelum membuat database spare part, workshop sebaiknya memiliki master data mesin. Langkah ini penting karena komponen harus dapat dihubungkan dengan unit yang sesuai.Data mesin yang dapat dicatat meliputi:- kode aset atau nomor unit;
- tipe mesin;
- nomor seri mesin;
- kapasitas atau rating mesin;
- aplikasi mesin;
- lokasi unit;
- tahun atau periode produksi jika tersedia;
- jam operasi;
- konfigurasi teknis yang relevan.
Cara Mengatur Part Number Spare Part Mesin Diesel
Sistem pengelolaan dapat dimulai menggunakan database sederhana selama struktur informasinya konsisten. Workshop tidak harus langsung menggunakan sistem yang kompleks. Hal terpenting adalah data dapat dicari, diverifikasi, dan diperbarui oleh personel yang berwenang.1. Buat Master Spare Part
Setiap komponen dibuat sebagai item dalam master spare part. Informasi yang dicatat sebaiknya cukup untuk membedakan satu komponen dari komponen lain.- part number;
- nama spare part;
- kategori komponen;
- aplikasi mesin;
- nomor seri atau rentang aplikasi jika diperlukan;
- satuan barang;
- lokasi penyimpanan;
- stok aktual;
- stok minimum;
- lead time pengadaan;
- status kritis atau nonkritis.
2. Gunakan Standar Penulisan
Format penulisan perlu dibuat konsisten. Perbedaan tanda baca, spasi, atau karakter dapat menyebabkan satu part number tercatat sebagai beberapa item berbeda jika database tidak memiliki kontrol duplikasi.Nama komponen juga perlu distandarkan. Misalnya, workshop dapat menentukan satu istilah utama untuk filter bahan bakar dan tidak membuat item baru hanya karena teknisi lain menggunakan istilah yang berbeda untuk komponen yang sama.3. Hubungkan Part Number dengan Unit Mesin
Setiap part number sebaiknya memiliki daftar aplikasi. Dengan demikian, teknisi dapat mencari spare part berdasarkan nomor komponen maupun berdasarkan kode aset mesin.Hubungan ini juga membantu pengendalian stok. Jika satu filter digunakan pada sepuluh mesin, kebutuhan persediaannya tentu berbeda dengan komponen yang hanya digunakan pada satu unit.Membedakan Part Number dan Kode Material Workshop
Part number teknis dan kode material internal memiliki fungsi berbeda. Part number digunakan untuk mengidentifikasi komponen berdasarkan referensi teknis, sedangkan kode material merupakan identitas yang dibuat untuk kebutuhan administrasi persediaan internal.Sebagai contoh, workshop dapat memiliki kode internal seperti “FLT-000125” untuk sebuah filter. Pada database yang sama tetap dicantumkan part number teknis, deskripsi, aplikasi mesin, dan lokasi rak.Pemisahan tersebut memberikan fleksibilitas karena satu sistem inventaris dapat digunakan untuk berbagai kelompok peralatan. Namun, kode internal sebaiknya tidak menggantikan informasi part number spare part mesin diesel. Keduanya perlu memiliki hubungan yang jelas dalam master data.Mengelompokkan Spare Part Berdasarkan Sistem Mesin
Pengelompokan berdasarkan sistem membantu teknisi melakukan pencarian sekaligus mempermudah pengelolaan rak. Struktur kategori dapat disesuaikan dengan jenis mesin yang ditangani workshop.Sistem Pelumasan
- filter oli;
- seal;
- gasket;
- komponen pompa oli;
- sensor atau switch tekanan oli.
Sistem Bahan Bakar
- filter bahan bakar;
- water separator;
- O-ring;
- komponen pompa bahan bakar;
- injector dan komponen terkait sistem injeksi.
Sistem Pendingin
- water pump;
- thermostat;
- hose;
- belt;
- gasket;
- komponen radiator sesuai konfigurasi.
Sistem Starting dan Kelistrikan
- starter motor;
- komponen charging system;
- sensor;
- switch;
- relay;
- konektor dan komponen kelistrikan terkait.
Mencegah Duplikasi Part Number dalam Database
Duplikasi dapat membuat persediaan terlihat lebih kompleks daripada kondisi sebenarnya. Masalah ini sering terjadi ketika item baru dibuat tanpa memeriksa database terlebih dahulu.Satu komponen yang sama dapat tercatat sebagai “Fuel Filter”, “Filter Fuel”, dan “Filter Solar”. Apabila masing-masing memiliki kode internal berbeda, sistem dapat menunjukkan tiga jenis persediaan meskipun barang fisiknya sebenarnya sama.Beberapa langkah untuk mencegah masalah tersebut adalah:- mewajibkan pencarian part number sebelum membuat item baru;
- menggunakan standar penamaan komponen;
- menetapkan format penulisan part number;
- membatasi personel yang dapat membuat master material;
- melakukan pemeriksaan duplikasi secara berkala;
- mencatat nomor alternatif sebagai referensi, bukan langsung membuat stok baru.
Mengelola Perubahan dan Superseded Part Number
Dalam perjalanan umur mesin, suatu komponen dapat mengalami perubahan desain atau nomor referensi. Part number lama dapat digantikan oleh nomor baru. Kondisi ini perlu dicatat agar workshop tidak menganggap kedua nomor tersebut sebagai komponen yang sama sekali tidak berhubungan.Database dapat menyediakan kolom untuk part number lama, part number pengganti, tanggal pembaruan, dan catatan kompatibilitas. Namun, perubahan nomor tidak boleh diasumsikan hanya berdasarkan kemiripan komponen. Verifikasi tetap perlu dilakukan menggunakan dokumentasi teknis yang sesuai dengan unit.Pencatatan riwayat tersebut juga membantu ketika workshop masih memiliki stok lama. Tim dapat menentukan apakah stok tersebut masih dapat digunakan pada mesin tertentu atau perlu diperlakukan berbeda.Menghubungkan Part Number dengan Minimum Stock
Setelah part number spare part mesin diesel terorganisasi, database dapat digunakan untuk menentukan tingkat persediaan. Tidak semua komponen membutuhkan stok dalam jumlah yang sama.Beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan adalah:- jumlah mesin yang menggunakan part number tersebut;
- frekuensi pemakaian;
- interval preventive maintenance;
- tingkat kekritisan komponen;
- harga spare part;
- lead time pengadaan;
- riwayat kerusakan;
- konsekuensi apabila komponen tidak tersedia.
Part Number untuk Perencanaan Preventive Maintenance
Pengelolaan part number sebaiknya terhubung dengan jadwal preventive maintenance. Setiap jenis servis dapat memiliki daftar material yang telah ditentukan sehingga kebutuhan spare part dapat dipersiapkan sebelum mesin masuk workshop.Alur kerjanya dapat dibuat sebagai berikut:- Catat jam operasi setiap mesin diesel.
- Identifikasi unit yang mendekati jadwal servis.
- Tentukan pekerjaan yang akan dilakukan.
- Buka daftar part number yang diperlukan untuk pekerjaan tersebut.
- Periksa jumlah stok di gudang.
- Hitung kebutuhan untuk seluruh unit yang akan menjalani servis.
- Lakukan pengadaan jika persediaan tidak mencukupi.
- Siapkan komponen sebelum unit masuk workshop.
Mencatat Pemakaian Spare Part pada Work Order
Setiap spare part yang keluar dari gudang sebaiknya dikaitkan dengan pekerjaan tertentu. Work order dapat digunakan untuk mencatat part number, jumlah pemakaian, unit mesin, jam operasi, dan alasan penggantian.Riwayat ini memberikan informasi yang berguna untuk workshop. Tim dapat melihat komponen apa yang paling sering digunakan dan mesin mana yang membutuhkan spare part lebih banyak dibandingkan unit lainnya.Jika satu komponen terus mengalami penggantian dalam interval yang tidak wajar, analisis teknis dapat dilakukan. Penyebabnya mungkin bukan kualitas persediaan, tetapi kondisi operasi, pemasangan, kontaminasi, temperatur, getaran, atau masalah pada sistem lain.Prosedur Verifikasi Part Number Sebelum Pemesanan
Kesalahan pemesanan dapat menambah downtime dan menciptakan dead stock. Karena itu, terutama untuk komponen kritis atau bernilai tinggi, part number perlu diverifikasi sebelum permintaan pembelian disetujui.Prosedur sederhana dapat menggunakan urutan berikut:- Identifikasi kode aset unit.
- Periksa tipe dan nomor seri mesin.
- Pastikan nama serta fungsi komponen.
- Cocokkan part number dengan dokumentasi teknis unit.
- Periksa kemungkinan perubahan atau superseded part number.
- Periksa database untuk memastikan komponen belum tersedia.
- Konfirmasi jumlah yang diperlukan.
- Catat aplikasi mesin pada dokumen permintaan pembelian.